Ada Sepatu di Visitasi Akreditasi UIN Malang

Titis Yoely Setyanugrahani bersama Wakil Dekan Bidang AUPK, Dr. Indah Yuliana, M.M. menunjukkan sepatu produknya di stand Fakultas Ekonomi dalam visitasi AIPT UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Satu produk, menarik perhatian salah satu asesor pada visitasi akreditasi UIN kemarin (Kamis, 13/3). Sepatu kulit dengan merk Gamada yang dipajang di stand FE UIN adalah handmade mahasiswa, Titis Yoely Setyanugrahani. Mahasiswa Fakultas Ekonomi semester 8 dengan IPK rata-rata 3,8 dan skor TOEFL 570 kelahiran Gresik, memasarkan produksinya secara online (ruangsepatu.id). Pembeli bisa memilih desain sendiri, sesuai corak dan ukuran yang dikehendaki. Dalam waktu 7-10 hari, sepatu sudah bisa diterima.

Mengawali usaha sebagai reseller produk sepatu, tertantang untuk memproduksi sendiri sesuai keinginan pembeli.  Matakuliah Kewirausahaan menjadi energi untuk mewujudkan mimpinya. Proposal bisnis yang menarik, membuat ia terpilih sebagai penerima bantuan pengembangan bisinis program “Mahasiswa Wirausaha” yang diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta pada 2017 lalu. Mendapat pelatihan entrepreneur selama satu tahun. Dari 1000-an pendaftar se-Indonesia, hanya 25 mahasiswa yang lolos. 

Mengawali dengan modal Rp. 500.000,- kini ia sudah memiliki 5 orang karyawan. Dalam satu bulan ia mampu menjual 100 pasang sepatu secara online. Harga sepasang bervariasi dari Rp. 200.000,- hingga Rp. 600.000,-. Pameran produknya masuk hingga Singapura dan Malaysia. Menurutnya, omzet yang tidak ternilai adalah portofolio, seperti desain, jaringan pasar, jaringan penyedia bahan, tenaga kerja, dan kemampuan mengelola bisnisnya secara online. Meski harus bisa bersaing dengan 6000 merk sepatu yang ada. Pelanggan produksi sepatunya dari Aceh, Merauke, hingga luar negeri. Di lingkungan UIN, mahasiswa dan wisudawan biasa memesan sepatu produksinya.

Senang? Tentu. Dalam perjalanannya, ia sering bersanding dengan para pejabat mulai dari direktur BUMN hingga pejabat pemerintah. Mempromosikan produknya dari pameran satu ke lainnya. Jakarta Convention Center dengan tarif sewa stand Rp. 9.000.000/meter, pernah ia tempati. Susahnya? Ada juga. Ketika harus mengirimkan 25 pasang sepatu, ternyata ongkos digelapkan oleh jasa pengiriman.  Sepatu sampai ke pelanggan 3 hari kemudian. Sempat dibilang penipu, tidak professional, dan segala macam serapah.  Tapi akhirnya dapat diselesaikan, jelasnya. Selama perkuliahan, ia cukup aktif berorganisasi. Masuk di LKP2M, Sescom, dan sempat menjadi reporter Gema, majalah kampus UIN Maliki Malang selama 6 bulan. Selama mahasiswa, waktunya jangan dihabiskan hanya untuk kuliah, pesannya kepada adik kelas. Sangat disayangkan. Banyak hal yang bisa diambil selama menjadi mahasiswa. Misalnya terkait jaringan, informasi, dan pengetahuan yang hanya bisa diakses saat menjadi mahasiswa. Ia menyesal memulai bisnisnya di semester 5, mestinya lebih awal, jelasnya.   Selamat  dan sukses atas prestasi akademik dan bisnisnya. (us).