Dihadiri Emil Dardak Secara Daring, ICONIES ke-12 FE UIN Malang Soroti Masa Depan Ekonomi Islam di Era AI

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin cepat membawa perubahan besar dalam dunia ekonomi dan bisnis. Fenomena tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam International Conference of Islamic Economics & Business (ICONIES) 2026 yang digelar Fakultas Ekonomi (FE) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Menghadirkan akademisi dan praktisi dari dalam maupun luar negeri, ICONIES 2026 menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan tentang masa depan ekonomi Islam, inovasi digital, ekonomi halal, keberlanjutan, hingga peran manusia di tengah semakin masifnya penggunaan AI.

Konferensi ini turut mendapat perhatian khusus dengan hadirnya Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., yang mengikuti jalannya acara secara daring dan turut memberikan warna tersendiri dalam konferensi tersebut.

Acara diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. H. Misbahul Munir, Lc., M.EI, yang disampaikan dalam bahasa Arab. Selanjutnya, sambutan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Tryo Suprayitno, M.Ag.

Dalam sambutannya, Dekan FE maupun Wakil Rektor berharap ICONIES 2026 dapat berlangsung lancar dan sukses sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kiprah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya Fakultas Ekonomi, di tingkat nasional dan internasional. Semangat tersebut selaras dengan nilai hayatan thayyibah, yakni ikhtiar menghadirkan kehidupan yang baik dan berkualitas melalui pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemaslahatan.

Emil Dardak: Konferensi Ekonomi Islam Harus Menjawab Persoalan Nyata

Menyampaikan pandangannya secara daring di hadapan peserta konferensi, Emil Dardak menyoroti pentingnya forum akademik seperti ICONIES untuk membaca berbagai persoalan ekonomi yang berkembang di Jawa Timur. Menurutnya, konferensi ekonomi Islam diharapkan tidak berhenti pada diskusi konseptual, tetapi juga dapat membantu mengidentifikasi, memilih, dan memilah berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Di saat yang sama, Emil memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan AI yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan AI, menurutnya, dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai aktivitas dengan lebih cepat dan efisien. Namun, perkembangan teknologi tersebut juga membutuhkan pemahaman dan pemanfaatan yang tepat agar memberikan manfaat bagi masyarakat.

AI, ESG, dan Ekonomi Islam dalam Satu Ekosistem

Memasuki sesi utama, Prof. Ts. Dr. Shafinar Hj. Ismail dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia mengajak peserta melihat perubahan lanskap ekonomi dan bisnis global melalui tema “Transforming Islamic Economic and Business: Integrating AI, ESG, and Sustainable Digital Innovation for Global Resilience.”

Menurut Prof. Shafinar, perkembangan ekonomi dari tahun ke tahun menuntut adanya kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi sekaligus menjaga keberlanjutan. Integrasi AI, Environmental, Social, and Governance (ESG), serta inovasi digital berkelanjutan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi global.

Namun, kemajuan teknologi tetap membutuhkan fondasi nilai. Dalam perspektif ekonomi Islam, transformasi tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka Tauhid, Khilafah, Adalah, Ihsan, serta Maqasid al-Shariah. Dengan demikian, teknologi tidak sekadar digunakan untuk mengejar efisiensi dan produktivitas, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan yang lebih luas.

“AI Is Not the Value, the Decision Is Human”

Perspektif berbeda mengenai AI disampaikan Prof. Dr.-Ing. Hendro Wicaksono dari School of Business, Social & Decision Sciences, Constructor University Bremen, Germany. Ia mengangkat gagasan yang sederhana tetapi relevan dengan perkembangan AI saat ini: “AI is not the value, the decision is human.”

Pesan tersebut menempatkan manusia sebagai aktor penting dalam penggunaan teknologi. AI dapat membantu menyediakan informasi, melakukan analisis, dan mempercepat berbagai proses, tetapi keputusan serta nilai yang mendasarinya tetap berada pada manusia. Gagasan ini menjadi semakin relevan ketika AI mulai digunakan secara luas dalam berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan, bisnis, pemerintahan, dan kehidupan sehari-hari.

Ekonomi Halal di Tengah Ledakan AI

Sementara itu, Prof. Slamet, S.E., M.M., Ph.D. dari Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membawa peserta pada pembahasan mengenai masa depan ekonomi halal melalui tema “Beyond Shariah Compliance: Reimagining the Halal Economy in the Age of AI.”

Ia menekankan pentingnya memastikan produk dan proses dalam ekosistem ekonomi halal tetap memenuhi prinsip-prinsip syariah. Di era AI, tantangan ekonomi halal menjadi semakin kompleks. Transformasi digital membuka berbagai peluang baru, tetapi pada saat yang sama membutuhkan perhatian terhadap proses, tata kelola, serta kesesuaian dengan prinsip halal. Karena itu, ekonomi halal perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan fondasi nilai yang menjadi karakter utamanya.

Menutup Konferensi dengan “The Experiential Void”

Sesi berikutnya menghadirkan Ben-Roy Do, Ph.D. dari Fu Jen Catholic University (FJCU), Taiwan, yang membawakan tema “The Experiential Void.” Tema tersebut melengkapi rangkaian diskusi ICONIES 2026 yang sejak awal membawa peserta pada pertanyaan besar mengenai bagaimana teknologi mengubah kehidupan, dunia bisnis, dan pengalaman manusia.

Dari berbagai paparan narasumber, satu benang merah terlihat jelas: masa depan ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi, tetapi teknologi juga tidak dapat berjalan tanpa nilai dan pertimbangan manusia.

ICONIES 2026 pun menjadi momentum bagi Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk mempertemukan berbagai perspektif internasional dalam membaca perubahan ekonomi dan bisnis. Melalui forum tersebut, ekonomi Islam didorong untuk tidak hanya mampu merespons perubahan zaman, tetapi juga ikut membentuk masa depan yang inovatif, berkelanjutan, beretika, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.

Berita Terkait