MIU Login

8th ICONIES: Usung Tema Islam dan Ekonomi Digital

Islam dan ekonomi digital menjadi pembicaraan menarik dalam Konferensi Internasional Ekonomi dan Bisnis Islam (ICONIES) ke – 8 dengan tema utama Embracing Digitalization to Achieve Innovations in Islamic Economics & Business Perspective, di Gedung Soekarno Rektorat UIN Malang Lantai 5 (Kamis, 29/9/2022

Menurut Prof. Dr. H. Nur Asnawi, M.Ag, Indonesia memiliki potensi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara hingga 2025 (Laporan E-Conomy Sea 2021, Desember 2021). E-commerce masih menjadi pasar terbesar ekonomi digital.  Dengan prediksi nilai 104 miliar US$ pada 2025, tumbuh 18% (53 miliar US$) pada 2021. Rata-rata pertumbuhan tahunan meningkat 109% atau senilai 146 miliar US$ dibandingkan dengan Thailand (57 miliar US$), Vietnam (56 miliar US$), Pilipina (40 miliar US$), Malaysia (miliar 35 US$), dan Singapura (27 miliar US$) pada 2025. Hal ini sesuai dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang sangat besar, ketersediaan internet yang cepat dan merata, serta ketersediaan SDM yang berkualitas.

Pengguna internet yang besar mengundang pelaku kejahatan siber. Kejahatan siber di Indonesia naik empat kali lipat selama pandemi (kompas.com, 2020). Indonesia dianggap sebagai negara yang paling berisiko mengalami serangan keamanan IT.  Indonesia menempati ranking pertama personal komputer terserang malware selama tiga bulan, baik berhasil maupun gagal. Di atas China, Thailand, Philipina, Malaysia, India, Mexico, UAE, Taiwan Hongkong (Security Threat Report 2013, Sophos labs). Indonesia juga menjadi negara peringkat delapan dengan kasus kebocoran data terbanyak; 1,04 juta akun selama kuartal II 2022.

Prof. Asnawi menjelaskan, beberapa etika yang harus diperhatikan dalam transaksi  online agar terhindar dari kejahatan siber di antaranya; menggunakan transaksi  dengan akad yang jelas, jujur, tidak menaikan harga barang di atas harga normal, tidak menjual barang haram, menjelaskan kekurangan barang, tidak menjelekkan bisnis online lainnya, memasang foto produk hasil sendiri, dan tidak menyalahgunakan data pembeli. Ketua Program Studi S3 Ekonomi Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu juga menjelaskan tentang penopang tercapainya keseimbangan dalam ekonomi Islam meliputi; adanya sektor keuangan dan sektor riil dengan menerapkan prinsip profit loss sharing, risiko dan keuntungan, harmoni dan kerjasama saling menguntungkan dalam bisnis, dan bisnis harus memperhatikan lingkungan serta keberlanjutan. Keseluruhan materi disampaikan dengan mengangkat tema “Islam and Digital Economy Toward Equilibrium and Sustainability Performance”. (us).

Berita Terkait