
Kehidupan kampus seyogianya bukan sekadar ruang untuk mengejar capaian akademik dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semata, melainkan juga wadah strategis untuk membentuk karakter, menghargai sesama, serta menciptakan lingkungan sosial yang sehat. Kesadaran inilah yang terus dibangun oleh Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK-FE) Tahun 2026.
Guna mewujudkan iklim akademik yang positif dan aman, panitia PBAK-FE 2026 menghadirkan sesi pembinaan khusus bertajuk “Etika Pergaulan Mahasiswa dan Pencegahan Kekerasan di Kampus”. Pemaparan materi ini disampaikan oleh Naviatus Sholihah, S.M., salah satu alumni dari Program Studi Manajemen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di hadapan ratusan mahasiswa baru, Naviatus menekankan urgensi etika dalam berinteraksi dengan seluruh elemen sivitas akademika, mulai dari sesama rekan mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan.
Dalam arahannya, Naviatus mengingatkan bahwa keberhasilan sejati seorang mahasiswa tidak cukup hanya diukur dari deretan angka pada transkrip nilai akademik.
“Kampus bukan cuma tempat mencari IPK, tapi juga tempat belajar menjadi manusia yang menghargai manusia lain,” tuturnya.
Menurutnya, proses pendidikan di perguruan tinggi akan mempertemukan mahasiswa dengan beragam latar belakang, karakter, pemikiran, dan kebiasaan. Oleh karena itu, kemampuan untuk saling menghormati perbedaan, menjaga etika komunikasi, dan mengendalikan diri menjadi kunci utama dalam mengarungi kehidupan akademik.
Lebih lanjut, Naviatus menyoroti isu kekerasan di lingkungan kampus yang sering kali tidak disadari karena tidak selalu berbentuk fisik. Perilaku merendahkan, menghina, intimidasi, pelecehan, hingga perundungan (bullying) secara verbal maupun psikologis harus diwaspadai dan dicegah sejak dini.
“Jangan sampai candaan yang menurut kita biasa justru menjadi sesuatu yang menyakiti orang lain. Kita harus belajar memahami batas antara bercanda dan merendahkan,” pesan Naviatus dengan tegas.
Melalui sesi edukasi ini, mahasiswa baru diajak untuk secara proaktif membangun budaya kampus yang aman, nyaman, inklusif, dan saling mendukung. Setiap mahasiswa diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi dengan berani mencegah kekerasan, serta tidak menjadi pelaku maupun penonton pasif. Selain itu, Naviatus juga mendorong para peserta untuk membiasakan diri menyelesaikan konflik secara dewasa dan menggunakan jalur pelaporan yang tepat jika menemukan pelanggaran etika di kampus.
“Menjadi mahasiswa berarti bukan hanya semakin pintar, tetapi juga semakin dewasa dalam bersikap. Ilmu yang kita miliki harus membuat kita semakin menghargai manusia lain,” tambahnya.
Pesan dari sesi pembinaan ini selaras dengan visi besar pendidikan di Fakultas Ekonomi UIN Malang. Hakikat pendidikan tinggi tidak sekadar berorientasi pada pencetakan lulusan yang kompeten secara intelektual, tetapi juga pembentukan pribadi yang berintegritas dan berkarakter. Dengan tertanamnya etika pergaulan yang baik, FE UIN Malang diharapkan terus menjadi ruang pendidikan yang melindungi dan memanusiakan setiap individu di dalamnya.