{"id":4190,"date":"2017-09-17T15:07:27","date_gmt":"2017-09-17T15:07:27","guid":{"rendered":"http:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/?p=4190"},"modified":"2017-09-17T15:07:27","modified_gmt":"2017-09-17T15:07:27","slug":"fe-studi-cross-culture-management","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/fe-studi-cross-culture-management\/","title":{"rendered":"FE Studi Cross-Culture Management"},"content":{"rendered":"<p>Desa dunia, sebuah istilah yang dianggap cukup tepat untuk menggambarkan mudahnya memasuki dunia \u00a0dengan segala perniknya.\u00a0 Melalui kemajuan teknologi, dunia seolah telah mengecil menjadi sebuah desa.\u00a0 Mengakses \u00a0sumberdaya \u00a0ekonomi \u00a0dan peradaban lintas \u00a0negara semudah membalikan telapak tangan. Pengaruh globalisasi sulit untuk dihindari.<!--more--><\/p>\n<p>\u201cGlobalisasi tidak terjadi secara kebetulan.\u00a0 Globalisasi sengaja diciptakan oleh negara-negara besar dengan tujuan untuk \u00a0menguasai sumberdaya ekonomi di \u00a0negara berkembang, \u00a0yang potensinya lebih dari 43 % kebutuhan dunia\u201d demikian dijelaskan oleh <strong>Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman <\/strong>dari Libiya. \u00a0\u00a0\u201cLebih dari 80 % (US $ 1.877 miliar) asset keuangan Islam global terkonsentrasi di\u00a0 10 negara dengan ketergantungan pada minyak.\u00a0 Disisi lain, berbagai konflik muncul dengan ragam latar belakang.\u00a0 Termasuk diantaranya adalah\u00a0 konflik lintas peradaban.\u00a0 Inilah yang mendasari pentingnya\u00a0 studi cross-culture manajemen\u201d\u00a0 kata <strong>Profesor Dr. Ullrich Guenther <\/strong>dari Jerman, \u00a0 dalam Seminar Internasional Economi and Bisnis Islam di UIN Malang kemarin (14-15\/9).<\/p>\n<p>Fakultas Ekonomi \u00a0UIN Malang, \u00a0mengadakan seminar internasional\u00a0 ekonomi dan bisnis Islam pada tahun yang ke lima kali ini mengambil tema \u00a0\u00a0\u201c<strong><em>Strengthening Global Islamic Financial Institutions through Cross-Cultural Management\u201c <\/em><\/strong>dengan pembicara Profesor Ullrich dari Jerman dan Dr. Sulaiman Hasan dari Libiya. \u00a0\u00a0Lebih dari 400 peserta hadir mengikuti seminar internasional yang dibuka oleh wakil rektor 1, Dr. M. Zainuddin, \u00a0di Gedung Rektorat UIN Malang.<\/p>\n<p>Menurut Sulaiman Hasan, negara besar seperti AS telah dibajak oleh Yahudi \u00a0untuk menjaga berbagai kepentingannya dalam menguasai sumberdaya alam di dunia.\u00a0 Konon, menurutnya, landasan teologi yang digunakan oleh Yahudi adalah kitabnya yang menjelaskan \u00a0bahwa\u00a0 bangsa \u00a0Yahudi diciptakan untuk menguasai dunia. \u00a0Sehingga, \u00a0\u00a0selain bangsa Yahudi boleh dijadikan \u00a0budak bagi kepentingannya. Wajar jika mereka tidak merasa berdosa\u00a0 ketika melakukan perbuatan keji,\u00a0 melakukan pengrusakan, dan mengeksploitasi sumberdaya alam pada negara lain.\u00a0 Termasuk yang tidak kalah bahayanya adalah melakukan transfer peradaban yang bersifat \u00a0merusak, hedonis, dan banyak menimbulkan berbagai krisis.<\/p>\n<p>Lebih lanjut Sulaiman menjelaskan, Islam hadir dengan membawa syariat yang diturunkan untuk semua manusia.\u00a0 Sistem ekonominya\u00a0 penuh rahmat dengan prinsip keadilan dan keselamatan untuk menopang kebutuhan umat manusia, \u00a0menjaga kemaslahatan, \u00a0menyejahterakan, \u00a0dan \u00a0mengatur hubungan antara negara melalui \u00a0\u00a0kerjasama yang setara.\u00a0 Contoh kecil dalam aktifitas ekonomi adalah \u00a0Islam \u00a0menghapus\u00a0 transaksi \u00a0ribawi.<\/p>\n<p>Untuk menghadang laju negara besar dalam mengeksploitasi sumberdaya alam dan penyebaran budaya yang merusak pada negara-negara berkembang, Sulaiman Hasan menawarkan beberapa solusi. Diantaranya adalah, \u00a0agar berpegang \u00a0teguh pada \u00a0agama Allah, persatuan negara-negara Islam, melakukan berbagai investasi, perbaikan sumberdaya manusia, \u00a0penguasaan teknologi, merubah budaya konsumtif menjadi produktif, berusaha menguasai \u00a0industry besar dalam negeri, dan mengembalikan mata uang kertas subsitusi yang di-<em>backup<\/em> dengan \u00a0emas.\u00a0\u00a0 Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, harus memiliki \u00a0komitmen \u00a0untuk membangun dan memajukan ekonomi dalam negeri, kata Sulaiman menjelaskan.<\/p>\n<p>Berbeda dengan pandangan Prof. Ullrich.\u00a0\u00a0 Dalam globalisasi, \u00a0kerjasama lintas budaya adalah sebuah keniscayaan.\u00a0 Namun harus memperhatikan berbagai aspek diantaranya adalah terkait dengan \u00a0kepemimpinan, perencanaan yang matang, orientasi strategis, penguasaan komunikasi, inovasi,\u00a0 pengendalian dan penguasaan manajemen konflik, dan membangun kepercayaan dunia.<\/p>\n<p>Prof. Ullrich menawarkan solusi praktis diantaraanya adalah sinergi dan kolaborasi dalam penyelesaian masalah\/konflik, melakukan analisis yang mendalam terkait penyebab masalah, dan solusi yang ditawarkan harus berdasarkan kajian dari tenaga ahli.\u00a0 Pada ranah personal harus dimulai dari membangun \u00a0kesadaran budaya dan perilaku kerja, jelas Prof. Ullrich. \u00a0\u00a0Selamat bekerja dan sukses bagi manajemen baru FE UIN. (us).<\/p>\n\n\n<div style=\"display:none;\">\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Desa dunia, sebuah istilah yang dianggap cukup tepat untuk menggambarkan mudahnya memasuki dunia \u00a0dengan segala perniknya.\u00a0 Melalui kemajuan teknologi, dunia seolah telah mengecil menjadi sebuah desa.\u00a0 Mengakses \u00a0sumberdaya \u00a0ekonomi \u00a0dan peradaban lintas \u00a0negara semudah membalikan telapak tangan. Pengaruh globalisasi sulit untuk dihindari.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-4190","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4190","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4190"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4190\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4190"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4190"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4190"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}