“Ngangsu Kaweruh” di Sanan

Kebutuhan kedelai di kampung Sanan cukup tinggi, lebih dari 30 ton per hari. Bermacam produk pangan berbahan  kedelai diproduksi di kampung industri ini. Kripik tempe, salah satu produk unggulan oleh-oleh destinasi Malang. Masih banyak produk lainnya, seperti sate tempe, rendang tempe, abon tempe, burger tempe, dan berbagai macam produk yang belum diketahui masyarakat luas.

Kreatifitas warga Sanan mengolah kedelai sudah dilakukan secara turun-temurun puluhan tahun silam, meski belum ditemukan data yang pasti awal tempe diproduksi di Sanan. Berbagai macam profesi bermunculan mulai dari produksi tempe, produksi tahu, profesi cuci kedelai, profesi iris tempe, profesi goreng kripik, profesi pembuat  kemasan, profesi jasa bungkus, importir kedelai, profesi penjual kripik tempe on-line, produksi saus tempe, hingga peternak penggemukan sapi potong. Sekitar 600 ekor sapi digemukkan di Sanan dengan asupan air cucian dan kulit kedelai.

“Lebih dari 15 pedagang bakso dan mie ayam keliling di Sanan, masing-masing telah memiliki langganannya.  Pendapatan masyarakat Sanan memberikan kontribusi PAD tertinggi di Malang” kata tokoh masyarakat Sanan, Dr. H. Muhtadi Ridwan, di hadapan lebih dari 40 orang pengrajin tempe dan jajaran akademisi FE UIN Malang di Sanan (3/2/2018).

Kemampuan masyarakat Sanan mengolah kedelai dan limbahnya agar menjadi komoditi bernilai ekonomi, sudah tidak diragukan lagi. Secara teknis praktik sudah sangat menguasai. Ujii coba berbagai produk baru yang dianggap mampu mendongkrak nilai tambah  cukup sering dilakukan, meski tanpa teori. Di sisi lain, dunia akademisi cukup mumpuni dengan berbagai macam teori baik dari aspek pengelolaan sumber daya manusia (SDM), manajemen, pemasaran, dan keuangan. Di sinilah pentingnya “ngangsu kaweruh” (mengambil pengetahuan: red.) kalangan akademisi pada masyarakat Sanan. Demikian sebaliknya, banyak teori yang bisa diaplikasikan oleh masyarakat Sanan untuk menjalankan aktifitas bisnis industri berbahan dasar kedelai agar menjadi lebih baik.

“Mahasiswa dapat  menggali berbagai aspek sosio-ekonomi yang ada di masyarakat Sanan, yang lebih terkenal dengan kampung industri (tempe) dibandingkan dengan kampung santrinya. “Ngangsu kaweruh” melalui pengabdian, penelitian, magang dan praktek lapang bisa dilakukan mulai dari tingkat pendidikan S1 hingga S3. “Ngangsu kaweruh” sangat penting dilakukan agar bisa memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan dunia akademisi”, kata Dekan FE UIN Malang, Dr.H. Nur Asnawi. (us).